Selasa, 30 Desember 2014

MEMBACA CEPAT



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Buku merupakan salah satu sumber ilmu yang fungsinya masih sangat vital dalam menambah wawasan keilmuan kita. Hampir semua ilmu ataupun gagasan tertuang dalam buku. Kita dapat mengetahui pendapat para ahli dari buku. Untuk itu, kita sebagai generasi muda harus mempunyai minat membaca buku yang tinggi agar dapat memajukan negara kita yang masih berkembang ini.Minat baca di negara kita masih sangat rendah. Itu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Budaya membaca harus ditanamkan sejak dini. Sebagai penerus negara kita, kita hendaknya mulai menumbuhkan budaya membaca dalam diri kita maupun di lingkungan sekitar kita. Selain untuk memperoleh pengetahuan dan mengisi waktu luang, membaca buku juga dapat memberikan banyak manfaat yang positif. Hernowo menyatakan bahwa membaca bukan sekedar membuat kita kaya akan pengetahuan. Membaca juga bukan sekedar meluaskan wawasan kita (Hernowo, 2009: 94). Karena dengan membaca buku dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan derajat bangsa.
Tentu dalam memperoleh berbagai pengetahuan dari buku, kita harus dapat membaca dengan baik. Agar pengetahuan yang kita peroleh semakin banyak, kita juga harus gemar membaca buku. Membaca menjadikan diri kita sebagai tenaga kreatif, ruh yang membumbung tinggi, yang dalam bergerak maju, bangkit dari satu keadaan menuju keadaan lain atau membaca akan membuat diri kita sebagai manusia dapat menyelidiki kebenaran (Iqbal:1982).Sering kali bagi beberapa orang, membaca buku sangat menyita waktu. Untuk itu, sangatlah perlu kita menguasai bagaimana cara membaca buku dengan cepat tanpa mengabaikan makna yang tersirat dari  isi buku yang kita baca. Hal tersebut bertujuan agar kita masih dapat membaca walaupun aktivitas yang kita lakukan begitu padat.
Dalam pelaksanaan membaca buku dengan cepat ada beberapa faktor yang dapat menghambat. Banyak orang yang mengalami kendala dalam menerapkan cara membaca dengan cepat. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor eksternal maupun faktor internal dari diri pembaca. Masalah yang sering terjadi adalah, seseorang mampu untuk membaca dengan cepat, tetapi makna yang ada dalam buku tersebut menjadi berkurang bahkan sering kali pesan atau ilmu yang terdapat dalam buku tersebut tidak dapat tersampaikan kepada pembaca dengan sebagaimana mestinya.Dalam makalah ini, kita akan memperdalam wawasan kita tentang maksud dari membaca cepat dan faktor-faktor yang dapat menghambat kegiatan membaca cepat serta mengatasi masalah yang timbul akibat memmbaca cepat itu sendiri. Agar semua orang dapat melakukan kegiatan ini dan tahu bagaimana cara mengatasi kendala-kendala yang ada.



B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Apakah hakikat pengertian membaca cepat?
2.      Apa yang dapat menghambat seseorang dalam membaca cepat?
3.      Bagaimana cara mengatasi hambatan dalam membaca cepat?
C. Tujuan
Sesuai dengan perumusan masalah yang dikemukakan, maka makalah ini bertujuan untuk mengetahui:
1.      Untuk mengetahui Pengertian secara jelas tentang hakikat membaca cepat.
2.      Untuk mengetahui dan memahami Hal-hal yang dapat menghambat seseorang dalam  melaksanakan kegiatan memaca cepat.
3.      Cara mengatasi hambatan dalam kegaitan membaca cepat















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Membaca Cepat
Membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai. Menurut Bowman and Bowman (1991: 265) dalam padepokan-it.com membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Sri Hastuti mengungkapkan bahwa membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses memahami makna yang tersirat dan tersurat, melihat pikiran yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. Membaca merupakan salah satu hal yang kompleks. DePotter menyatakan dalam bukunya sebagai berikut.Walaupun membaca merupakan proses yang kompleks, tu merupakan salah satu hal yang dapat dicapai oleh otak manusia. Sebagian besar kita belajar pada usia enam atau tujuh tahun dengan perkembangannya kemampuan mental diusia dewasa, kita bahkan mampu mengatasi tantangan yang lebih besar. (DePotter, 2009).
Membaca dapat diartikan sebagai salah satu ketrampilan berbahasa yang dianggap sebagai proses memahami makanya yang terdapat dalam kata-kata yang tertulis dan dapat menjadi sarana untuk pembelajaran sepanjang hayat.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca cepat diartikan sebagai membaca dalam hati dengan tujuan memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Depdiknas, 2008). Sedangkan techonly13.wordpress.com menyatakan membaca cepat adalah sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya.
Pengertian tersebut tidak jauh berbeda  dengan id.forums.wordpress.com yang mengartikan bahwa membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan dengan menggunakan gerakan mata dan dilakukan tanpa suara yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara tepat dan cermat dalam waktu singkat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa membaca cepat merupakan kegiatan membaca yang memprioritaskan waktu dengan menggunakan gerakan mata, dibaca dalam hati, dan memiliki tujuan untuk mendapatkan informasi yang banyak dengan tingkat pemahaman yang tinggi terhadap bahan yang dibacanya dalam waktu yang singkat.Imron Rosidi mengemukakan bahwa membaca cepat adalah perpaduan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Membaca cepat merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan.


B.     Faktor Penghambat Membaca Cepat
Dalam melakukan kegiatan membaca cepat, ada beberapa hal yang dapat menghambat kegiatan tersebut. Penghambat membaca cepat ini biasanya diturunkan karena kegiatan membaca yang dilakukan sewaktu masih kecil. Kebiasaan-kebiasaan membaca waktu kecil menjadi terbawa sampai dewasa.Membaca dengan bersuara (vokalisasi), menggerakkan bibir, menunjuk kata demi kata dengan jari, menggerakkan kepala dari kiri ke kanan, seperti dilakukan semasa kanak-kanak, merupakan kegitan yang menghambat (Soedarso, 2002:5). Selain hambatan tersebut, ada hambatan yang sulit diatasi adalah regresi dan subvokalisasi.
Soedarso menjelaskan lebih rinci tentang hambatan-hambatan diatas sebagai berikut:
a.        Vokalisasi
Vokalisasi atau membaca dengan bersuara adalah salah satu hal yang mampu menghambat kecepatan dalam membaca cepat. Jika seseorang membaca dengan bersuara, maka seseorang melakukan dua pekerjaan sekaligus sehingga akan menghambat kecepatan membaca sekaligus pemahaman yang diperoleh (mualim.blogdetik.com). Itu berarti bahwa kita mengucapkan kata demi kata secara lengkap.
b.      Gerakan Bibir
Menggerakkan bibir ketika kita sedang membaca akan membuat kecepatan membaca kita melambat. Itu sama saja dengan kita membaca dengan bersuara. Soedarso menambahkan kecepatan seseorang yang membaca dengan bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan seseorang yang membaca secara diam (Soedarso, 2002:5).
c.       Gerakan Kepala
Kebiasaan menggerakkan kepala saat membaca merupakan kebiasaan yang timbul pada masa kanak-kanak. Kebiasaan itu timbul karena dulu jangkauan mata kita sewaktu masih kecil, kurang mencukupi. Setelah dewasa, walaupun jangkauan mata kita sudah mencukupi, kita sulit meninggalkan kebiasaan menggerakkan kepala karena sudah sering dilakukan.
d.      Menunjuk dengan Jari
Kegiatan membaca dengan menunjukkan jari ini juga merupakan kebiasaan membaca yang dibawa sejak kecil. Dulu kita melakukan hal ini karena untuk menjaga agar tidak ada kata yang terlewatkan. Akan tetapi, setelah dewasa, sudah barang tentu kemampuan membaca kita semakin meningkat kebiasaan ini tetap dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan. Padahal membaca dengan menggunkan telunjuk jari atau benda lain dapat menghambat kecepatan membaca kita. Cara membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain itu sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata (Soedarso, 2002:7).
e.           Regresi
Arif Wijaya menyatakan regresi ialah terjadinya pengulangan-pengulangan gerak mata pada unit-unit bahasa yang telah dibaca (arifwijaya.blogdetik.com). Hal tersebut biasanya terjadi karena kurang memahami kalimat yang dibacanya. Kebiasaan tersebut menjadi hambatan yang sangat serius dalam membaca.
Regresi sering diiringi oleh beberapa sebab diantaranya adalah:
1.      Kurang percaya diri terhadap apa yang sedang di baca.
2.      Merasa ada sesuatu yang tertinggal.
3.      Salah persepsi.
4.        Terpaku pada detail.
5.       Mempersoalkan tentang salah cetak, yakin ada salah ejaan, dan kata sulit.
Menurut Soedarso (2002:6) melamun merupakan penyebab kebiasaan regresi. Melamun disebabkan karena kurang konsentrasi saat membaca. Sehingga menyebabkan ingin kembali mengulang kata atau kalimat yang telah dibaca.
f.        Subvokalisasi
Subvokalisasi ini adalah suara yang biasa “ikut membaca” di dalam pikiran kita. Jadi waktu kita membaca, di dalam pikiran kita seperti ada suara yang menyuarakan bacaan itu (kiwod.com). Menurut Dwi, subvokalisasi ini juga menghambat karena kita jadi lebih memperhatikan bagaimana melafalkan daripada berusaha memahami ide yang dikandung dalam kata-kata yang kita baca. Kebiasaan subvokalisasi ini akan menjadi penghambat pembaca dalam melakukan kegiatan membaca cepat, karena pembaca menjadi tidak fokus pada ide pokok bacaan tetapi terpecah menjadi cara pelafalannya juga.

C.    Cara Mengatasi Hambatan
Walaupun dalam membaca cepat terdapat berbagai hambatan, tetapi ada cara untuk meminimalisasi hambatan tesebut. Berikut ini adalah cara-cara untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat berpengaruh dalam kecepatan membaca, daitaranya:
1.      Vokalisasi
Soedarso mengungkapkan cara untuk menghilangkan kebiasaan vokalisasi ini dapat dilakukan dengan cara menyiulkan suara dengan bibir, sementara itu aktifitas membaca tetap berlangsung. Pada waktu yang sama tangan diletakkan pada leher, dan diusahakan tidak ada getaran pada leher.
2.       Gerakan Bibir
Kebiasaan menggerakkan bibir ketika membaca dapat dihilangkan dengan melakukan kegiatan:
a.       Merapatkan bibir kuat-kuat, dan menekankan lidah ke langit-langit mulut.
b.      Mengunyah permen karet.
c.       Mengambil pensil atau sesuatu yang lain yang cukup ringan, lalu menjepit dengan kedua bibir (bukan gigi), diusahakan agar pensil itu tidak bergerak.
d.       Mengucapkan berulang-ulang, kata “satu, dua, tiga”.
e.        Bibir dalam posisi bersiul, tetapi tidak bersuara.
3.       Gerakan Kepala
Untuk menghilangkan kebiasaan gerakan kepala saat membaca dapat dilakukan cara sebagai berikut:
a.       Meletakkan telunjuk jari ke pipi, dan menyandarkan siku tangan ke meja selama membaca. Apabila terasa tangan terdesak oleh gerakan kepala, maka gerakan itu harus segera dihentikan.
b.       Memegang dagu dengan tangan seperti memegang-megang jenggot dan bila kepala bergerak, maka gerakan itu harus segera dihentikan.
c.       Meletakkan ujung telunjuk jari di hidung, maka bila kepala bergerak, maka gerakan itu harus segera dihentikan (Soedarso, 2002:6).
4.      Menunjuk dengan Jari
Kebiasaan menunjuk dengan jari ketika membaca dapat dihilangkan dengan melakukan kebiasaan menggunakan kedua tangan memegang buku yang dibaca, atau memasukkan tangan ke saku selama membaca.

5.      Regresi
Kebiasaan regresi ketika membaca dapat dihilangkan dengan  melakukan cara sebagai berikut:
a.       Menanamkan kepercayaan diri. Jangan berusaha mengerti setiap kata atau kalimat dalam bacaan tersebut. Jangan terpaku pada detail, terus saja membaca jangan ikuti godaan untuk kembali ke belakang.
b.      Menghadapi bahan bacaan tanpa perasaan ragu terhadap kesalahan yang dilakukan, jika dalam keadaan membaca, bacalah. Apa yang sudah ketinggalan, tinggalkan.
6.      Subvokalisasi
Cara menghilangkan subvokalisasi dalam membaca memang tidak mungkin, tetapi masih dapat diusahakan dengan cara melebarkan jangkauan mata sehingga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya daripada melafalkanya.
Christiana Ratri Yuliani menyebutkan meskipun ada banyak masalah yang bisa menjadi penghambat dalam belajar membaca cepat, tidak berarti tidak ada jalan keluarnya. Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah-masalah dalam membaca cepat yaitu :
a.       Miliki kosakata yang luas
Jika saat ini Anda masih memiliki kosakata yang terbatas, ada cara-cara yang bisa ditempuh untuk mengatasinya, yaitu dengan menyiapkan catatan kata-kata baru yang belum Anda ketahui. Setelah itu, carilah artinya di dalam kamus. Perbendaharaan kata yang banyak sangat membantu dalam memahami suatu bacaan.
b.      Sikap tubuh
Membaca cepat memang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Tidak jarang pembaca justru berada dalam posisi tegang. Kondisi yang seperti ini justru menjadi penghambat. Untuk itu, ambilah posisi santai saat membaca.
c.       Membaca sepintas lalu
Dengan membaca sepintas lalu, Anda bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi.
d.       Konsentrasi
Konsentrasi yang penuh menghindarkan Anda dari melamun atau pikiran yang melayang-layang. Kesulitan dalam berkonsentrasi menunjukkan kecepatan membaca yang rendah. Untuk itu, usahakan agar selalu berkonsentrasi ketika membaca cepat.
5.      Retensi/mengingat kembali informasi dari bacaaan
Mengingat kembali informasi yang baru saja Anda baca bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, diskusi, maupun menulis kembali informasi yang sudah diterima.
6.      Tujuan dari membaca itu sendiri
Dengan menentukan tujuan dari membaca, Anda akan mengetahui apakah bacaan tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda atau seperti yang Anda inginkan.
7.      Motivasi
Motivasi yang jelas dalam membaca akan memengaruhi tingkat pemahaman bacaan. Jika Anda sudah memiliki motivasi yang jelas dalam membaca suatu bacaan, Anda akan lebih mudah menyerap informasi dalam bacaan tersebut. Untuk itu, tumbuhkanlah motivasi dalam membaca.








BAB III.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat merupakan kegiatan membaca yang memprioritaskan waktu dengan menggunakan gerakan mata, dibaca dalam hati, dan memiliki tujuan untuk mendapatkan informasi yang banyak dengan tingkat pemahaman yang tinggi terhadap bahan yang dibacanya dalam waktu yang singkat.Hal yang menghambat membaca cepat adalah kebiasaan sejak kecil seperti vokalisasi, gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari, regresi, dan subvokalisasi. Untuk mengatasi masalah yang timbul dalam membaca cepat dapat diatasi dengan miliki kosakata yang luas, sikap tubuh, membaca sepintas lalu, konsentrasi, retensi/mengingat kembali informasi dari bacaaan, tujuan dari membaca itu sendiri, dan motivasi.










DAFTAR PUSTAKA
Arif Wijaya. 2009. http://arifwijaya.blogdetik.com/2009/10/29/penghambat-membaca-cepat/ di akses  pada tanggal 24 Februari 2010 pukul 11.36 WIB
Nurhadi, 2008, Membaca Cepat dan Efaktif, Malang: Sinar Baru Algensindo



Senin, 29 Desember 2014

RPP BULLYING



KATA PENGANTAR
Pujisyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya, taufik ,serta hidayah – Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah tentang ”BULLYING ”. Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidak lain untuk memenuhi satu dari sekian kewajiban tugas mata kuliah serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan .
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis telah mendapatkan begitu banyak bantuan baik berupa materi ,fisik , maupun spiritual sehingga makalah ini bias terselesaikan. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1.      Eva KartikaWulansari, S.Pd. Selaku pembimbing utama yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini.
2.      Teman – teman Mahasiswa Pendidikan Bimbingan dan Konseling Angkatan 2012 yang telah memberikan masukan berupa motivasi dalam rangka menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan ,oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan makalah yang selanutnya.Semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak yang membutuhkan.





                                                                                                            Malang , 08 Desember  2014

                                                                                                                        Penulis
BULLYING
A.    Pengertian Bullying
Bullying merupakan perilaku yang tidak sopan ,dapat berupa pelecehan verbal , fisik atupun mentalyang dilakukan kepada orang orang lain yang dianggap lemah , rendah, tidak berharga, dan tidak layak untuk mendapatkan rasa hormat.Sehingga pelaku bullying merasa memiliki hak untuk menyakiti, menghina, atau mengendalikan orang lain  atau perilaku bullying  juga dapat dilakukan karena atas dasar perbedaan ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan.Perilaku bullying merupakan tindakan kriminal yang dapat merugikan orang lain.Seseorang yang menjadi korban bullying akan merasa tidak tenang dan kehidupan psikologinya pun akan merasa terancam dan terganggu.
Bullying terbagi kedalam 3 kategori yaitu :
1.      Bullying Verbal yaitu perilaku  memaki, mengejek, menggosip, membodohkan dan mengkerdilkan orang lain.Contohnya adalah mengeluarkan kata-kata kasar ataupun menggosipkan salah satu teman satu kelas.
2.      Bullying Physical yaitu perilaku memukul, menampar, memalak atau meminta paksa yang bukan miliknya dan juga pengeroyokan. Contohnya adalah terjadi ketika pemimpin genk nakal dalam suatu kelompok  mengajak teman-teman genknya atau bahkan teman – teman yang ada disekitarnya  untuk memalak, merebut sesuatu yang bukan hak miliknya,memukuli teman sekolah yang dianggap sangat menyebalkan.
3.      Bullying Emotional yaitu perilaku mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, mendiskriminasikan.Contoh perbuatannya adalah anak – anak anggota genk nakal yang mengintimidasi salah seorang teman di sekolahnya yang dianggap lemah atau mengintimidasi teman yang mereka tidak sukai karena lebih pintar dari mereka.





B.     Faktor penyebab Bullying
1.      Faktor keluarga : 
Pelaku bullying cenderung berasal dari keluarga yang bermasalah atau sering menggunakan kekerasan.Perilaku orang tua yang memberikan hukuman berlebihan ketika anaknya melakukan kesalahan,misalnya orang tua yang selalu memberikan hukuman berupa pukulan saat anaknya nakal atau tidak mau menuruti perintah orang tuanya.Dan ketika anak tersebut tidak berani melawan orang tua, maka “perlawanan” ini ditujukan pada teman-temannya.
Faktor latar belakang dari keluarga yang memengaruhi perilaku bullying pada individu, yaitu :
a.       Lingkungan emosional yang beku dan kaku dengan tidak adanya saling memperhatikan dan memberikan kasih sayang yang hangat di dalam suatu keluarga.
b.      Pola asuh yang asuh serba membolehkan, sedikit sekali memberikan aturan di dalam keluarga ataupun bertingkah laku.
c.       Keluarga yang bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya.
d.      Konflik yang terjadi antara orangtua, dan terjadinya ketidakharmonisan di dalam keluarga.
e.       Pola asuh orang tua yang otoriter dengan menggunakan kontrol dan hukuman sebagai bentuk disiplin yang tinggi

2.      Teman Sebaya :
     Pada masa remaja anak cenderung memiliki keinginan untuk tidak  lagi tergantung kepada orang tuanya.Mereka akan lebih bergantung kepada teman sebayanya untuk if mencari rasa aman,dan dukungan.Teman sebaya dapat memberikan pengaruh yang positif atau bahkan negatif.Maka dari itu,bullying dapat terjadi karena pengaruh teman sebaya yang memberikan pengaruh negatif dengan cara memberikan ide baik secara aktif maupun pasif bahwa bullying tidak akan berdampak apa-apa dan merupakan suatu hal yang wajar dilakukan

3.      Faktor lingkungan:
Lingkungan sekitar rumah sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku bullying, misalnya anak hidup pada lingkungan orang yang sering berkelahi atau bermusuhan, berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada, maka anak akan mudah meniru perilaku lingkungan itu dan merasa tidak bersalah, atau menganggapnya sebagai hal yang biasa yang tidak melanggar norma.Dan hal tersebut juga dapat ia lakukan kepada sipa saja terutama kepada orang yang mereka anggap lemah.

4.      Pengaruh Media :
   Bullying dapat terjadi dari pengaruh media telivisi ataupun media yang lain. Pada media telivisi terkadang  ada programyang menyajikan tayangan yang mengandung unsur kekerasan, dan tayangan tersebut dapat dilihat langsung oleh anak maka kemungkinan besar  akan tumbuh perilaku agresi pada anak tersebut dan menggunakan agresi untuk menyelesaikan masalah.Dan hal tersebut akan dia bawa pada lingungkan sebayanya,dimana ia akan cenderung menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah dengan temannya atau memukul atau menganiaya temannya yang dianggap menyebalkan atau membuatnya merasa tidak nyaman.

C.    Dampak dari Bullying
1.      Dampak bagi korban
Konsekuensi bullying bagi para korban, yaitu ,bullying dapat membuat remaja merasa cemas, ketakutan, dan  mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan membuat mereka menghindari sekolah. Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang berulang atau waktu yang  lama, dapat mempengaruhi percaya diri siswa,memunculkan perilaku menarik diri dari lingkungannya, menjadikan remaja cenderung menjadi stress dan depreasi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebihparah , bullying  bahkan dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri.




Hal tersebut kemudian mulai mempengaruhi prestasi akademiknya.Dan perilaku bullying berkontribusi terhadap rendahnya tingkat kehadiran, rendahnya prestasi akademik siswa, rendahnya self-esteem, tingginya depresi, tingginya kenakalan remaja dan kejahatan orang dewasa.Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa.

2.      Dampak bagi pelaku Bullying
Para pelaku bullying ini memiliki kebutuhan kuat untuk mendominasi orang lain dan kurang berempati terhadap targetnya.Para pelaku bullying pada umumnya memiliki percaya diri yang tinggi, cenderung bersifat agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan, tipikal orang berwatak keras, mudah marah dan impulsif, toleransi yang rendah terhadap frustasi.Dengan melakukan bullying, pelaku akan beranggapan bahwa mereka memiliki kekuasaan terhadap keadaan. Jika dibiarkan terus-menerus tanpa intervensi, perilaku bullying ini dapat menyebabkan terbentuknya perilaku lain berupa kekerasan terhadap anak dan perilaku kriminal lainnya.

3.      Dampak bagi siswa lain yang menyaksikan bullying
Jika bullying dibiarkan tanpa tindak lanjut yang tepat , maka para siswa lain yang menjadi penonton kejadian bullying akan berasumsi bahwa bullying adalah perilaku yang bisa diterima secara sosial dan merupakan hal yang wajar untuk dilakukan,dan tidak melanggar norma sosial.Dalam kondisi ini, beberapa siswa mungkin akan bergabung dengan pelaku bullying karena mereka  takut menjadi sasaran berikutnya dan beberapa lainnya mungkin hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun karena mereka juga merasa takut untuk melaporkannya kepada guru, atau orang tua mereka, dan yang paling parah mereka merasa tidak perlu menghentikannya.






D.    Cara Mengatasi Bullying
Bully terjadi ketika terdapat perbedaan kekuatan, yang bisa berwujud perbedaan jumlah (mayoritas vs minoritas) atau perbedaan kekuatan lain seperti atasan vs bawahan, dewasa vs anak-anak, cerdas vs bodoh, kaya vs miskin, rupawan vs tidak rupawan.Ini artinya, kita dapat mencegah terjadinya bullying dengan menyeimbangkan kekuatan yang ada.
Lalu, bagaimana cara menyeimbangkan kekuatan?.Dalam kasus di mana bullying terjadi karena perbedaan jumlah (mayoritas vs minoritas), di mana mayoritas mem-bully minoritas, bullying dapat diatasi dengan cara menyeimbangkan jumlah sedemikian sehingga tidak ada lagi mayoritas dan minoritas.Jika Anda diposisikan sebagai minoritas ( kelompokyang lemah), yang dengan demikian orang lain berani mem-bully Anda secara beramai-ramai, carilah teman untuk menyeimbangkan kekuatan Anda. Mereka tidak akan berani mem-bully Anda , saat Anda memiliki banyak teman yang dapat membantu Anda melawan mereka.
Jika bullying terjadi antara atasan dan bawahan, maka Anda dapat melawan bullying yang dilakukan atasan Anda dengan cara mengemukakan hak-hak Anda (yang diakui oleh undang-undang) yang dilanggar oleh atasan Anda. Untuk itu, Anda perlu mempelajari undang-undang yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.Intinya, untuk melenyapkan bullying, yang perlu Anda lakukan adalah :
1.      Bullying menyebabkan sang korban kehilangan kepercayaan diri. Bullying membuat sang korban berpikir bahwa dirinya tidak layak dihargai, di mana dengan perasaan seperti itu, Melawan tindakan bullying itu, bukan menerimanya secara pasif. Anda dapat melawannya dengan memperbanyak teman, meminta pertolongan dari lembaga-lembaga yang berkonsentrasi dalam kasus bullying.
2.      Para pelaku bullying akan membuat sang korban semakin tidak berdaya melawan bullying.Maka Jika Anda menjadi korban bullying,yang perlu anda ingat adalah jangan menyalahkan diri Anda sendiri agar anda merasa tetap layak untuk dihargai dan bisa melawan bullying.

3.      Untuk menghilangkanbullying, Anda juga perlu mengingat kembali kelebihan dan kebaikan Anda. Anda perlu membangun image diri yang positif. Semakin Anda percaya bahwa Anda layak dihargai karena kualitas-kualitas Anda, Anda akan semakin merasa kuat. Dan, semakin Anda merasa kuat, maka Anda berani melawan tindakan bullying yang menimpa Anda.


E.     Layanan yang digunakan untuk Bullying
Informasi yang diberikan adalah bermaksud untuk mengenalkan siswa pada hal-hal             yang berkaitan dengan sekolah, termasuk di dalamnya mengenai bullying.Layanan informasi yang diberikan diupayakan dapat menumbuhkan pemahaman siswa mengenai bahaya dari perilaku bullying,karena siswa yang tidak memahami perilaku bullying akan beranggapan bahawa perilaku bullying adalah kenakalan yang masih wajar untuk dilakukan oleh siswa. Dan lama-kelamaan persepsi ini akan membuat siswa merasa aman dannyaman untuk melakukan kepada tingkat berikutnya. Hal tersebut dapatberakibat pada terus berkembangnya perilaku bullying, bahkan tidak menutup kemungkinan bullying akan menjadi suatu tradisi turun temurundi sekolah tersebut
 Salah  satu informasi yang dapat diberikan dalam layanan informasi yaitu informasi “mengenai sosial-budaya ’’, khusunya pada bahasan “antarbudaya” bahwa manusia ditakdirkanbersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Mereka dijadikan seperti itu bukanuntuk saling bersaing dan bermusuhan karena perbedaan budaya yang ada, tapi seharusnya mereka saling mengenal dan menerima sehingga tercipta kondisi dinamis yangmendorong ke pada perubahan yang semakin baik. Hal tersebut perludiinformasikan pada siswa karena salah satu penyebab bullying yaitu perbedaan etnis/ras,dan juga agama.Melalui pemberian informasi mengenai sosial budaya,atau agama maka diharapkansiswa mampu memahami perbedaan tersebut sebagai suatu kekuatan untuk dapat saling memberi dan berbagi bukan menjadi alasan untuk salingbermusuhan.Dan memberikan informasi kepadasiswa tentang konsekuensi yang akan diterima siswa dari sekolah(hukuman) apabila dia terbukti  melakukan tindakan bullying.



Lembar Evaluasi



1.      Mengajak siswa bermain games dengan cara meminta 3 – 5 orang siswa untuk maju ke depan kelas.Setelah itu masing – masing  siswa di suruh untuk mengambil beberapa pertanyaan .yang berkaitan dengan bullying  yang ada di dalam wadah ,dan sudah di acak..
2.      Dengan Pertanyaan sebagai berikut :
a.       Apa pengertian Bullying menurut anda ?
b.      Sebutkan Faktor – faktor penyebab  Bullying !
c.       Apa yang akan anda lakukan jika anda menjadi korban bullying ?
d.      Sebutkan 3 kategori bullying !
e.       Apa dampak bagi korban bullying ?
3.      Jika siswa mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan benar , maka siswa akan mendapatkan hadiah.












Daftar Rujukan

http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/02/bullying-di-sekolah.Diakses pada 29 september 2014jam :14.00